Sunday, July 5, 2015

Mungkin Indonesia Masih Tidur

Hari ini dapat pelajaran banyak dari stand upnya Pandji Pragiwaksono Mesakke Bangsaku. Keren tuh harus ditonton bisa buka pikiranlah dikit hehehhehe. Sebenarnya sadar bukan baru pas nonton stand upnya Pandji, dari dulu juga sudah sadar. Sadar ternyata pendidikan di Indonesia menghasilkan generasi patuh, semacam padi dipaksakan menjadi jagung kan tidak bisa --". Masing-masing orang punya keahlian sendiri punya bakat sendiri, tidak bisa mau disamakan. 

Tapi anehnya rata-rata orang tua menganggap punya anak yang berprestasi dibidang akademik itu cerdas, pintar dan apalah itu, dan anak seperti itu yang menjadi idaman setiap orang tua, nah loh terus kalau yang ahli dibidang lain tidak cerdas? harusnya kan didukung bukan diremehkan, tidak usah dibanding-bandingkan sama teman-temannya yang mungkin juara di kelas. masing-masing punya jalan sendiri.

Sama nih, kayak kalau jadi mahasiswa tugas akhir, yang wisuda duluan dianggap genius, yang belakangan semacam diremehkan, apaan? memangnya tugas akhir satu sama yang lain sama? lah beda, pembimbing beda pembahasan beda, tingkat kesulitan juga beda, itumah tergantung rejeki sama jalan yang dikasih Allah hahahhaha

Sebenarnya miris lihat anak-anak zaman sekarang, saking berkembangnya zaman makin banyak anak-anak yang tidak tahu yang namanya sopan santun, kerjaanya main gadget, mainnya juga sosmed kalau kaga main sosmed yah kampung. Beda sama anak 90an, hahahha mainnya tekong, karet, jengkal, dll, lagunya diobok-obok, kuku kuku, si lumba-lumba, anak zaman sekarang lagunya sakitnya tuh disini. Jangan heran kalau zaman sekarang banyak anak yang penampilannya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Ternyata Indonesia masih kurang guru, atau lebih tepatnya pembagian gurunya tidak merata. Dulu kalau ditanya mau jadi dokter atau guru, pilihnya dokter, iyalah kan dokter uangnya banyak. dengan adanya yang namanya sertifikasi guru, yang mo jadi guru itu banyak sekali, semoga bukan guru asal-asalan, asal mengajar untuk memenuhi banyaknya jam mengajar supaya sertifikasi keluar, ada yang begitu. jadi guru itu pake niat, niat mencerdaskan anak bangsa, bukan kejar sertifikasi. Rata-rata guru-guru paling senang dekat sama anak pejabat, kenapa bisa begitu? kaga tau saya, kalau sudah begitu yang bukan anak pejabat dilirik aja alhamdulillah, itulah mengapa di sekolah selalu  ada nepotisme. Sekolah-sekolah dari SD sampe SMA yang namanya nepotisme saya rasakan semua dan yang kampretnya saya korban nepotismenya hahahahha. Kembali ke pembagian guru tidak merata, di kota-kota besar kelebihan guru, dan di daerah-daerah terpencil Alhamdulillah kalau gurunya ada. Ada 1 guru untuk semua mata pelajaran, pintar tuh guru. Kalau begini yang salah siapa? pemerintah tidak boleh disalahkan 100%, sebenarnya kita juga salah, kebanyakan orang kalau ditempatkan di daerah terpencil pasti selalu mencari jalan untuk pindah ke kota, ada yang begitu. jadi, Indonesia yah begini adanya, Indonesia bisa berubah dengan tidak melimpahkan 100% mengurus negara ini kepada pemerintah, Indonesia bisa berubah jika kita semua peka, kita punya banyak orang pintar di luar negeri. Indonesia bisa maju, cuma sekarang Indonesia mungkin belum bangun dari tidurnya. Semoga lekas bangun dan berbenah. Hidup Indonesia :)

No comments: